![]() |
| Manager Google (Vanessa Marcotte) |
Kirby mengatakan bahwa kematian Marcote memiliki pola. Polanya adalah dia akan mengunjungi ibunya di akhir pekan, dan akan pergi untuk joging sebelum ia kembali ke kota pada Minggu itu. Jika Marcote bukan seorang korban tindakan acak, kata Kirby, maka jogingnya di akhir pekan merupakan celah untuk membunuhnya.
Selama bekerja di FBI, Kirby telah menyelidiki sejumlah kasus perempuan yang menjadi korban pemerkosaan atau pembunuhan saat joging. Hal ini terjadi karena para penyuka joging sering terganggu musik yang mereka dengar melalui headphone. Biasanya mereka joging sendirian."Ini tempat yang produktif bagi seseorang yang berniat buruk."
Menutu Kirby, tindakan menyerang seseorang yang tengah joging juga berbicara karakter pembunuhnya, karena Marcote sosok yang atletis, dan melawan penyerangnya sebelum tewas."Mereka akan berjuang mati-matian untuk lolos,"kata Kirby, yang menjadi inspirasi untuk karakter Clarice dalam film Silence of The Lamb.
Setelah kematiannya, tubuh Marcote dibakar. Kirby berujar, tindakan ini merujuk kepada pola pikir si pembunuh setelah kejahatan itu dilakukan."Dia bertarung dengannya. Pembunuh itu tahu dia (Marcote) memiliki DNA nya," ujar Kirby. DNA si pembunuh, diduga tertinggal di tubuh Marcote, sehingga pembunuh itu membakar tubuh Marcote.
Meski begitu, pembunuh tak diyakini telah mencapai tujuannya karena tubuh Marcote tak sepenuhnya terbakar. Sebelum kematian Marcote, kasus pembunuhan yang mirip juga menimpa penggemar olahraga joging bernama Karina Vetrano, 30 tahun, asal New York. Ia juga menghilang saat joging di rawa terpencil dekat rumahnya.
Kirby menuturkan, ada kemungkinan Marcote dan Vetrano dibunuh oleh dua orang yang sama, meski berada di dua tempat yang terpisah, sekitar 400 km." Pembunuh berantai akan bepergian. Ini adalah bagian dari kemampuan mereka untuk tetap dibawah radar penegakan hukum," ucap Kirby. (Intelijen)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar